Pemprov Akan Tingkatkan Produksi Kakao di Banten
Sumber Gambar :Kota Serang – Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Provinsi Banten menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Pelaku Usaha Kakao, Peningkatan Peran Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) Provinsi Banten, di Hotel Jayakarta Anyer, Kabupaten Serang, Selasa (03/05/2016). Turut hadir dalam acara tersebut Ketua TP PKK Provinsi Banten Hj. Dewi Indriati Rano, Direktur Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian RI Dudi Gunadi, Asisten Daerah Administrasi Umum Setda Provinsi Banten (Asda III) Ir. Hj. Eneng Nurcahyati dan Kepala Dsihutbun Maysaroh Mawardi.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Dishutbun Provinsi Banten Maysaroh Mawardi menyampaikan berdasarkan Angka Tetap 2014 luas perkebunan di Provinsi Banten yaitu 165.040,18 Ha terdiri dari Perkebunan Rakyat seluas 143.123,30 Ha, Perkebunan Negara seluas 9.657,71 Ha dan Perkebunan Besar Swasta seluas 12.259,17 Ha. Sedangkan luas perkebunan kakao 8.162,31 Ha yang tersebar di empat kabupaten/kota yaitu Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Serang. Sebagian besar perkebunan kakao dikelola oleh rakyat seluas 7.139,31 Ha atau 87,47 persen dan 12,53 persen atau seluas 1.023 Ha dikelola oleh perkebunan besar swasta yang ada di Kabupaten Lebak. Produktivitas lahan sebesar 728,06 kg/ha masih di bawah rata-rata produktivitas nasional sebesar 1.350 kg/ha. Adapun pasar yang terbuka luas disebabkan kakao mudah diolah untuk menjadi makanan dan minuman yang disukai masyarakat untuk semua kalangan. Dalam rangka pengembangan kakao secara ekonomis, Dishutbun Provinsi Banten memiliki program Pembangunan Kawasan Perkebunan Berbasis Komoditas di wilayah potensial yang bertujuan untuk memadukan serangkaian program dan kegiatan perkebunan untuk menjadi satu kesatuan yang utuh baik dalam perspektif sistem maupun kewilayahan, sehingga dapat mendorong peningkatan daya saing komoditas, wilayah serta pada akhirnya kesejahteraan petani akan meningkat dan berkembangnya wilayah ekonomi. Melalui program pengembangan perkebunan diharapkan pula peningkatan dari peran wanita dalam menanggulangi kemiskinan melalui keterlibatan mereka dalam mengolah dan memasarkan hasil perkebunan.
“Sejauh ini Pemprov Banten telah mengembangkan potensi perkebunan kakao sejak tahun 2011. Namun sayangnya, masih ada permasalahan sehingga produksi kakao di Provinsi Banten tidak optimal. Beberapa kendala diantaranya adalah kakao masih dianggap perkebunan sampingan. Selain itu, para petani kakao belum optimal dalam pemanfaatan teknologi tumbuhan kakao yang dianjurkan seperti pemupukan, mengatasi penyakit tumbuhan, dan masalah permodalan,” ungkapnya.
Direktur Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian RI Dudi Gunadi mengatakan jika melihat potensi di Banten dalam hal agro ekosistem dan tanah yang cukup baik sangat memungkinkan dikembangkan komoditas kakao yang lebih luas. Selain itu, Banten juga memiliki peluang dalam mengembangkan jasa perkebunan, artinya produk-produk hilir perkebunan.
Sementara itu Asda III Provinsi Banten Ir. Hj. Eneng Nurcahyati mengatakan, keberadaan Kampung Kakao di Desa Sindang Karya Kecamatan Anyer Kabupaten Serang yang dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Angsana Jaya merupakan model pembinaan dengan konsep keterpaduan hulu dan hilir didukung dengan penguatan kelembagaan, pengolahan lahan yang baik dan pemasaran hasil. Sejauh ini Gapoktan sudah bermitra dengan PT. Bumi Tangerang Mesindotama.
“Saya bangga dan memberikan apresiasi kepada Gapoktan Angsana Jaya yang telah berhasil memproduksi olahan cokelat dengan kualitas dan asa yang tidak kalah dengan olahan cokelat skala industri,” ucap Asda III menyampaikan sambutan Gubernur Banten.
Pada kegiatan tersebut, Ketua TP PKK Provinsi Banten Hj. Dewi Indriati Rano mengatakan bantuan diberikan berdasarkan beberapa golongan, seperti untuk kelompok tani diberikan bantuan benih porang, bibit kapulaga, pupuk kompos dan pupuk NPK, autoclave dan alat-alat laboratorium. Sedangkan untuk sebelas kelompok tani diberikan pula bibit kakao dengan jumlah bervariasi yaitu insektisida, fungisida, dan pupuk NPK serta gunting pangkas.
“Jika untuk TP PKK dari delapan Kabupaten/Kota yang merupakan bagian dari P2WKSS kami berikan bantuan berupa bibit sukun, mangga, durian dan rambutan dengan jumlah masing-masing 20 batang, sedangkan bantuan berupa uang diberikan kepada empat yayasan dengan total nilai Rp. 20 juta, dan tiga Kelompok Usaha Produktif (KUP) senilai Rp. 45 juta. Adapun harapan kami kepada para kelompok tani yang diberikan bibit kakao agar dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” tegas Ketua TP PKK.